Kenalin ini Abah Ajo, usianya 60 tahun. hidup sendirian di kontrakan berukuran 3x3 dengan rongsokan yang sengaja abah tumpuk di kamar.
kalau abah tidur, sudah dapat dipastikan tidur bersama rongsokan yang ia cari dan bau khas dari tumpukan barang bekas yang abah kumpulkan.
karena Abah berangkat dari jam 10 malam hingga 8 pagi, kadang abah tidur dijalanan kalau dirasa sudah kelelahan. bukan karena abah tidak mau tidur dirumah tapi kalau barang sedang penuh, abah susah tidur.
setiap harinya Abah memang tidur di atas selembar sepanduk yang ia bawa dari jalan. untuk makanpun abah kadang kesulitan dan harus membeli diwarung meski dengan lauk seadanya tapi minimal malam itu perut abah terisi.
benjolan ini tumbuh disekujur tubuhnya dari kepala hingga kaki, dan di bagian punggung pun tumbuh begitu banyak, hingga ada 1 benjolan sebesar telur angsa yang sudah dioprasi namun sekarang tumbuh benjolan yang besar seperti anggur di area dada abah.
anak Abah juga mersakan hal yang sama, sama-sama tumbuh benjolan yang setiap harinya semakin membesar dan menjamur disekujur tubuhnya.
Yang lebih memilukan, anak Abah Ajo mengalami penyakit yang sama.
Benjolan-benjolan itu tumbuh perlahan, satu demi satu, seakan tak memberi kesempatan untuk sembuh.
Ayah dan anak, sama-sama menahan sakit, sama-sama bertarung dengan waktu—namun tanpa biaya, tanpa pengobatan layak, tanpa pegangan.
Hari ini, Abah Ajo masih tetap bekerja.
Masih mengangkat barang.
Masih melawan sakit.
Bukan karena ia kuat—tetapi karena ia tidak punya pilihan lain untuk hidup.
💔 Sahabat baik, Abah Ajo butuh pertolongan kita.
Uluran tanganmu bisa membantu:
🤲 Satu donasi darimu, adalah jeda dari penderitaan yang selama ini ia tanggung sendirian.
Mari kita ringankan beban Abah Ajo.
Hari ini, sebelum sakitnya semakin parah dan harapannya benar-benar habis.